Jumat, 20 Desember 2024

Menjadi Guru yang Memerdekakan Peserta didik


Hai Sobat Blogger! 🌟

Welcome to my blog😊 Kali ini, kita akan membahas tentang guru yang memerdekakan peserta didik. Nah, coba deh Sobat perhatikan gambar di atas. Menurut kalian, apakah sosok tersebut sudah mencerminkan seorang guru yang memerdekakan peserta didik? Yuk, kita kupas lebih dalam tentang makna memerdekakan dalam dunia pendidikan! 💡✨

        Sosok guru masa depan  adalah seseorang yang mampu memerdekakan peserta didik, sebagaimana visi Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan. Guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pembimbing yang menuntun peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan potensinya. Berdasarkan pemikiran ini, konsep guru yang memerdekakan peserta didik menjadi sangat relevan dalam konteks pendidikan modern. Guru yang saya idamkan di masa depan adalah sosok yang mampu menciptakan lingkungan belajar yang menghargai kebebasan, kreativitas, dan perkembangan alami setiap peserta didik.

        Sebagai guru yang memerdekakan, peran utamanya adalah menuntun peserta didik tanpa paksaan. Konsep ini sejalan dengan pendidikan yang menuntun dari Ki Hadjar Dewantara, di mana anak-anak diberikan kebebasan untuk belajar dan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam mengacu pada potensi alami yang dimiliki setiap anak, sedangkan kodrat zaman menekankan pentingnya relevansi pendidikan dengan perkembangan zaman. Guru yang baik harus mampu memahami kodrat kedua ini dan merancang proses pembelajaran yang sejalan dengan keduanya. Peserta didik tidak boleh dibatasi oleh sistem yang kaku, tetapi diberi ruang untuk mengekspresikan diri, berpikir kritis, dan menghadapi tantangan sesuai dengan perkembangan dunia modern.

        Dalam Sistem Among yang terdiri dari asah, asih, dan asuh, guru diharapkan dapat memberikan pengetahuan (asah), kasih sayang (asih), dan perlindungan (asuh). Guru masa depan harus menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman, di mana peserta didik merasa dihargai dan didukung dalam mengembangkan potensi mereka. Bukan hanya dari aspek akademis, tetapi juga dari sisi karakter dan moral. Budi pekerti sebagai salah satu fondasi penting dalam pendidikan harus terus ditanamkan, sehingga peserta didik tumbuh menjadi individu yang berintegritas dan memiliki etika dalam kehidupan sehari-hari.

        Selain itu, guru masa depan harus menerapkan prinsip Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Sebagai teladan, guru diharapkan mampu menunjukkan sikap yang baik dan menjadi panutan bagi peserta didik (Ing Ngarso Sung Tulodo). Di tengah-tengah proses pembelajaran, guru harus mampu menggerakkan semangat peserta didik untuk aktif dan kreatif dalam belajar (Ing Madya Mangun Karso). Dan dari belakang, guru mendukung dan mendorong peserta didik untuk mandiri dan bertanggung jawab atas pembelajaran mereka (Tut Wuri Handayani). Dengan pendekatan ini, guru mampu menumbuhkan semangat belajar yang mandiri dan inovatif pada peserta didik.

        Namun, di era pembelajaran abad ke-21, guru masa depan tidak hanya pandai mendidik, tetapi juga melek teknologi. Teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. Guru yang memerdekakan peserta didik harus mampu menggunakan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar mengajar, guru dapat membuka akses lebih luas terhadap sumber-sumber informasi dan memfasilitasi pembelajaran yang lebih interaktif.

        Sebagai kesimpulan, guru yang memerdekakan peserta didik adalah guru yang percaya bahwa setiap peserta didik memiliki potensi yang unik dan dapat berkembang menjadi individu yang sukses jika diberi kesempatan dan bimbingan yang tepat. Tugas guru bukan untuk mengendalikan, tetapi untuk menuntun. Dengan menciptakan ruang bagi kebebasan berpikir dan eksplorasi, serta memberikan dukungan moral dan intelektual, guru berperan dalam membentuk generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. Sebagai calon guru, inilah aksi nyata yang ingin saya lakukan yaitu memerdekakan peserta didik untuk menjadi individu yang mandiri, berbudi pekerti, percaya diri, dan siap berkontribusi pada masyarakat.


Jumat, 22 November 2024

Filosofi Pendidikan Indonesia

Sosok Guru Masa Depan

    Guru memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan ilmu pengetahuan bagi setiap individu. Tidak hanya sebagai penyampai materi, seorang guru juga berfungsi sebagai teladan, motivator, dan fasilitator yang memandu siswa untuk menemukan potensi terbaiknya. Di tengah perkembangan zaman yang semakin pesat, peran guru semakin berkembang dan menuntut mereka menjadi pribadi yang adaptif, kreatif, dan inovatif. Guru masa depan adalah sosok yang tidak hanya menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga berperan dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan serta membentuk karakter siswa agar siap menghadapi dunia yang penuh tantangan. Berdasarkan pengalaman pribadi saya saat bersekolah dan juga melalui Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang seperti apa sosok guru masa depan yang diidamkan.

    Saat saya masih duduk di kelas XI SMA, saya memiliki guru bahasa Inggris bernama Pak Edwind Manalu yang menginspirasi dan meninggalkan kesan mendalam. Beliau memiliki metode mengajar yang variatif dan menyenangkan. Setiap kali beliau mengajar, suasana kelas menjadi hidup dan penuh semangat. Beliau tidak hanya mengajarkan materi bahasa Inggris, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter pada kami. Melalui pendekatan yang penuh kasih dan semangat, beliau mengajarkan pentingnya disiplin, kejujuran, dan rasa percaya diri. Bagi Pak Edwind, belajar bukan hanya soal menguasai bahasa asing, tetapi juga tentang bagaimana menjadi pribadi yang baik dan bertanggung jawab. Karena itu, beliau mampu mengubah pembelajaran bahasa Inggris, yang sering kali dianggap sulit karena di penuhi dengan grammar, menjadi pengalaman yang menyenangkan dan memotivasi.

    Namun, tidak semua guru di sekolah saya saat itu memiliki pendekatan yang sama seperti Pak Edwind. Beberapa guru hanya datang ke kelas, memberikan tugas, dan menyuruh kami meringkas materi dari buku teks tanpa memberikan penjelasan yang mendalam. Hal ini membuat pembelajaran terasa kurang bermakna, dan kami sebagai siswa hanya menjalankan tugas sekadar untuk memenuhi kewajiban tanpa benar-benar memahami materi. Pengalaman ini menyadarkan saya betapa pentingnya peran seorang guru dalam menciptakan suasana belajar yang bermakna. Guru yang baik bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membimbing dan menginspirasi siswa untuk mengembangkan diri secara holistik. Melalui pengalaman ini, saya semakin memahami bahwa sosok guru masa depan harus mampu mendidik siswa dengan cara yang melibatkan hati, bukan sekadar rutinitas.

    Ketika saya mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya mendapatkan banyak wawasan tentang konsep-konsep baru dalam dunia pendidikan yang sangat relevan dengan kebutuhan zaman. Salah satu mata kuliah yang paling berkesan bagi saya adalah Filosofi Pendidikan Indonesia. Mata kuliah ini membuka wawasan saya tentang pentingnya pendidikan yang berpusat pada siswa serta pendekatan holistik yang memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa. Pendidikan tidak hanya sebatas penyampaian materi, tetapi juga harus memperhatikan kebutuhan dan potensi unik setiap siswa. Saya belajar bahwa seorang guru harus mampu memahami karakteristik siswa secara menyeluruh agar proses pembelajaran dapat mencapai tujuan yang lebih bermakna.

    Selain itu, pengalaman paling berharga dalam PPG adalah ketika saya melakukan PPL di sekolah. Saya diberi kesempatan untuk mengajar siswa kelas yang terdiri dari beragam karakter dalam mata pelajaran IPAS. Selama proses pembelajaran, saya mencoba menciptakan suasana kelas yang kondusif serta melibatkan siswa secara aktif. Saya juga menggunakan berbagai media pembelajaran seperti video, gambar, dan permainan edukatif seperti word wall untuk membuat materi pelajaran lebih mudah dipahami dan menarik bagi siswa. 

    Pengalaman praktikum ini mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang pentingnya persiapan yang matang sebelum mengajar. Selain itu, saya menyadari bahwa setiap siswa memiliki karakter dan gaya belajar yang berbeda-beda, sehingga seorang guru harus mampu beradaptasi dengan kebutuhan siswa. Dengan cara ini, saya belajar untuk menjadi sosok guru yang lebih fleksibel dan peka terhadap perbedaan individu dalam proses pembelajaran. Pengalaman ini juga membuka mata saya bahwa pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah pendekatan yang paling efektif dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Selama PPG, konsep inklusi menjadi salah satu topik yang sangat ditekankan. Saya belajar bahwa setiap siswa memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau kondisi fisik. Sebagai calon guru, saya merasa terpanggil untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, di mana semua siswa merasa diterima dan dihargai. Hal ini memberi saya pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya menciptakan kelas yang ramah dan inklusif, sehingga siswa dari berbagai latar belakang merasa nyaman dan mampu mengembangkan potensinya secara maksimal.

    Dalam konteks pendidikan di Indonesia, saya juga belajar dari sosok Ki Hajar Dewantara, tokoh yang memberikan inspirasi besar dalam dunia pendidikan. Beliau mengajarkan filosofi “tri dharma” yang terdiri dari tiga prinsip: Ing ngarso sung tulada (di depan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Ketiga prinsip ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana seorang guru masa depan harus bertindak. Di depan, guru harus menjadi teladan yang baik bagi siswa, baik dari segi perilaku, etika, maupun cara berpikir. Guru masa depan harus menjadi contoh dalam berpikir kritis, jujur, dan penuh tanggung jawab.

    Selain itu, saat berada di tengah siswa, guru harus mampu membangun semangat dan antusiasme belajar. Guru yang baik adalah mereka yang bisa menumbuhkan minat dan motivasi siswa terhadap pembelajaran, sehingga siswa tidak hanya belajar karena kewajiban, tetapi juga karena ketertarikan yang tulus dari dalam diri mereka. Prinsip Tut wuri handayani menekankan bahwa guru harus mampu memberikan dorongan dan mendukung siswa untuk berkembang sesuai potensi mereka. Guru masa depan bukan hanya sosok yang mengarahkan, tetapi juga memberi ruang kepada siswa untuk menemukan jati diri mereka dan berkembang secara mandiri.

    Seiring dengan perkembangan zaman, guru masa depan juga dituntut untuk memiliki sifat kreatif, inovatif, dan adaptif. Kreativitas dan inovasi sangat diperlukan dalam merancang pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru yang kreatif akan mampu mengubah situasi belajar yang monoton menjadi kegiatan yang menyenangkan dan memotivasi siswa untuk lebih berpartisipasi. Selain itu, seorang guru masa depan juga harus bersikap adaptif dalam menghadapi perubahan, terutama perubahan teknologi yang pesat. Sikap adaptif memungkinkan guru untuk terus mengembangkan diri dan mengikuti perkembangan pendidikan, sehingga tetap relevan di era digital ini.
Kemampuan komunikasi yang baik juga menjadi salah satu keahlian utama yang harus dimiliki oleh seorang guru masa depan. Dengan komunikasi yang baik, seorang guru dapat menyampaikan ide dan pemikiran secara jelas serta memahami kebutuhan siswa secara lebih mendalam. Komunikasi yang efektif memungkinkan guru untuk membangun hubungan yang baik dengan siswa, orang tua, dan rekan sejawat, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan produktif.

    Sebagai calon guru, saya merasa memiliki tanggung jawab besar untuk menjadi sosok guru masa depan yang dapat melepaskan belenggu pendidikan di Indonesia. Dengan menjadi guru yang kreatif, inovatif, adaptif, dan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, saya yakin kita bisa memberikan kontribusi yang signifikan bagi dunia pendidikan. Langkah pertama yang dapat kita lakukan adalah memulai perubahan dari diri sendiri, dengan terus belajar, berinovasi, dan memperbaiki diri.
Refleksi dari pengalaman saya selama bersekolah dan pembelajaran yang saya dapatkan di PPG memberikan bekal berharga untuk menjadi sosok guru masa depan yang diidamkan. Guru yang bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga menginspirasi, membimbing, dan membangun karakter siswa. Dengan demikian, saya berharap dapat menjadi bagian dari sosok guru masa depan yang akan melahirkan generasi muda Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan di masa depan.

Jumat, 11 Juni 2021

ENGLISH ASSESMENT

NAME       :  KEZIA G NDRAHA ( 1888203054)
                     CAMELIA MANALU (1888203048)
                     PUTRY WAHYUNI ( 1888203019)
                     ERNI JULIANA ( 1888203044)
                     SELLA NURSITA (1888203058)

SUBJECT  : ENGLISH ASSESMENT

This is the drive  link of  our assignment mam
Thank you mam 😇🙏

https://drive.google.com/file/d/1xc-1BC_KWjFjcjuPuwzt06CZ8ZwR1jq2/view?usp=drivesdk

Rabu, 13 Januari 2021

UAS CCU CAMELIA MANALU

Name              : Camelia Manalu

Nim                 : 1888203048

Class               : 5.1

Subject           : Cross Cultural Understanding

Lecturer         : Dr.Herlinawati, M.Ed

 

1. In Indonesia foreign cultures, someone needs to understand well the cultures to avoid cultural conflicts. But, many people are failed to understand the value and customs of foreign cultures. According to your own idea, please explain what do you need to have to understand foreign cultures in order to avoid cultural conflicts.

Answer : Cross-cultural understanding in language learning is needed to avoid cultural conflicts. When we learn a foreign language, at the same time we have to study the foreign culture in the target language because language and culture are two things that cannot be separated. If we only learn a foreign language without understanding its culture, it has the potential to cause cultural conflict with native speakers. By understanding culture means that we already have the basic ability to respond to a difference and act appropriately to people with different cultural backgrounds. So in understanding cross-culture, it is necessary to be open to the new values ​​of the incoming culture, believing that all cultures are good (eliminating the notion that culture itself is the best culture while other cultures are considered bad cultures). That way, we can communicate with strangers without offending any party so as not to cause cullture shock or cultural conflict.

2. How do you define your local culture is different from foreign culture ? Do you think local and foreign cultures need to be integrated ? please provide your reasons.

Answer : Local culture is everything that we create, grow and develop as part of our life where we live. Meanwhile, foreign culture or often called western culture is the legacy of norms, values ​​and customs that come from outside the region. Local culture with foreign culture needs to be integrated, but by paying attention to what culture we adopt, what I mean here is that we have to get rid of the notion that all foreign cultures are bad, good and bad exist in every culture including our own local culture. The integration of local culture with foreign culture is actually the right thing, in which we have to make a selection of which values ​​we can integrate, we certainly don't take the wrong values, while we accept positive values ​​with open arms. By integrating local culture with foreign culture does not mean that we allow our local culture to be displaced or destroyed, but rather strengthen local culture with the era of globalization, both cultures are positioned completely.

 

3. What is stereotype and prejudice ? Does it exist in your local culture ? Give example

Answer : A stereotype is a form of assessment that is owned by someone which will be categorized, stereotype also is a perception that is owned by people which is based on information obtained from thoughts based on one's own thoughts. While prejudice is when someone has a belief (usually something unfavorable / negative) about a certain person or group based on a stereotype, which is formed before having evidence and that is not based on reason or experience. Prejudice divides people's defense based on differences in gender, race, ethnicity and different cultures. Both stereotype and prejudice are equally dangerous because they ignore the fact that each individual has his / her own abilities, strengths, weaknesses, desires, thoughts and feelings.

Examples of negative stereotypes and prejudice that exist in my local culture (Batak) are for example the Batak people are known to be hard and rude, even though the fact is that it is not certain that all Batak people have a strong character, it all depends on their respective personnel, after the emergence of these stereotypes, a prejudice will emerge which is a unjustified negative attitudes towards certain groups.

UAS IMALT CAMELIA MANALU

Name              : Camelia Manalu

Nim                 : 1888203048

Class               : 5.1

Subject           : IMALT

Lecturer         : Dr.Herlinawati, M.Ed

 

 

1. What is media in teaching ? How many teaching media types do you know, Explain

Answer : Teaching media are all tools or educational mediums that are used by educators to convey or to stimulate messeges, thoughts, teaching material to students in the learning process to achieve learning goals. There are 5 types of media that I know, the first is audio media, audio media that can only be heard such as mp3, radio. The second is visual media, media that can only be seen such as posters, pictures, graphics, etc. the third is audio visual media, media that can be heard and also seen, for example videos, tv, sound films etc. Furthermore, multimedia, media that can be presented is complete media such as animation. And the last reality media, real media in the natural environment.

2. Why teacher needs media in teaching ?

Answer : Why teachers need media in learning is because we can say media as teachers' best friend in teaching, which means that media teaching facilitates the learning process which makes it easier for teachers to convey and clarify material using the right media, and makes it easier for students to grasp clear and core messages from learning. Besides that, media helping teachers to use study time better, as well as reducing the burden on teachers in presenting information. The position of the media in learning has become a complete need that can attract students' interest in learning again, and make the learning process more interesting and effective because the use of media leads students to learn by doing process.

 

3. What are the criteria of good teaching media ?

Answer :  Criteria of good teaching media are:

1. Conformity with the learning material (what media are in accordance with the learning topic that day)

2. Conformity with student characteristics (must pay attention to whether the media is compatible with the heterogeneous character of students in one class)

3. Suitability with student learning styles

4. Conformity with environmental conditions and time

5. Conformity with objectives (suitable media to achieve learning goals)

6. Media that has been tested for its validity

7.  Ease of obtaining media

8. Educators are skilled in using it

9.  Most importantly, according to their needs at the meeting with the hope that the chosen media can accelerate the learning process and achieve the expected goals.

4. Do you think that the teaching media needs to be developed ?Why ?

Answer :  Yes of course, teaching media really needs to be developed and follow the development of science and technology, because media development is one of the determining factors for the success of learning, with media development it will increase and attract students' interest in learning. The learning media is actually dynamic as we know in today's very fast technological developments which clearly affect student learning styles and interests, if we as teachers do not keep up with the times, then how can we balance student learning needs and interests with our media? use in the learning process, of course this will cause ineffectiveness in the learning process. Therefore the media needs to be developed, it could be combining traditional media with modern media, in essence, depending on the situation, conditions, interests and needs.

Nama: Camelia Manalu Mata Kuliah: Bahasa Inggris Kelas: PGSD B   My name’s Camelia Manalu. I’m from Sisoding. I graduated from Universitas...